Showing posts with label JazzJakarta. Show all posts
Showing posts with label JazzJakarta. Show all posts

Sunday, March 09, 2014

Tjok Sinsoe

Tjok Sinsoe
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Tjok Sinsoe (lahir di Tahuna, Sangihe, 12 November 1912 – meninggal di Bogor, Jawa Barat, 9 Juli 1974 pada umur 61 tahun) yang memiliki nama asli George Rudolf Willems Sinsoe adalah seorang penata musik dan pemain jazz asal Indonesia yang terkenal pada era 40-an. Ia adalah paman dari kakak beradik Ireng dan Kiboud Maulana.

Biografi
Tjok Sinsoe menyelesaikan pendidikannya di AMS (setingkat SMA) sampai kelas II pada tahun 1932. Bakat musiknya menurun dari ibunya, yang pandai bermain biola, mandolin serta pintar menyanyi. Pada awalnya Ia tertarik pada instrumen biola, karena terkesan oleh permainan biola Joe Fenaty dalam film King of Jazz. Ia pandai juga memainkan gitar yang dipelajari dari ibunya. Sebelum PD II, ia ikut orang tuanya pindah ke Jawa dan tinggal di Banyuwangi. Kemudian sebelum zaman pendudukan Jepang, ia dan keluarganya hijrah dan menetap di Jakarta.[1]

Pada tahun 1935 ia mendapat kontrak untuk bermain musik di Singapura dan juga berkeliling Semenanjung Malaka. Pada tahun 1937 ia gagal masuk wilayah Hongkong, karena Jepang telah menduduki China. Di Jakarta ia mendirikan orkes Hawaiian Syncopeters yang merupakan satu dari lima orkes Hawaian yang terbesar di dunia. Pada masa pendudukan Jepang ia ditarik untuk bermain dalam Orkes Symphoni Hosho Kyoku. Dalam masa itulah lahir karya-karyanya yang terkenal seperti "Surya Wisesa" dan "Embun" diciptakan. Menata musik untuk film telah dimulainya sejak film Darah dan Doa (1950), karya Usmar Ismail. Dan karyanya untuk Harimau Tjampa (1954) berhasil memenangkan hadiah dari FFA di Singapura, yang diadakan pada tahun 1955.[1]

Pada tahun 1950-an, ia pernah bermain di Hotel Des Indes, Jakarta bersama Nick Mamahit (piano) dan Bart Risakotta (drum) dengan format Jazz Trio. Pada tahun 1968 Ketika Taman Ismail Marzuki baru dibuka, ia menyelenggarakan pertunjukan musik dalam bentuk Big Band. Acara itu sempat berlangsung secara rutin setiap tiga bulan sekali. Kemudian Dalam "Expo 1970" di Osaka, Jepang, ia bergabung bersama Indonesia VI, pimpinan Mus Mualim, bersama teman-teman musisi yang lain seperti: Sadikin Zuchra, Idris Sardi, Maryono, dan Benny Mustapha. Selain bermusik, pada tahun 1950-an, ia pernah juga bermain film yang berjudul Krisis. Awal tahun 1970-an namanya kembali muncul di dunia musik dengan rombongan Big Band-nya, yang menjadi perhatian orang khususnya kalangan pecinta musik Jazz. Sejak tahun 1964, ia juga memulai hobi barunya melukis dan sempat menyelenggarakan pameran lukisan abstrak di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.[1]

Pada tahun 1972 saat tampil di Taman Ismail Marzuki, Tjok bermain dengan format big band bersama 25 pemain anak buahnya. Beberapa orang adalah anggota korps musik Angkatan Laut dan beberapa lagi dari Orkes Simfoni Djakarta. Untuk pembuka ia memainkan lagu "In The Mood" ciptaan Joe Garland yang terkenal itu. Meskipun tidak segesit Glenn Miller namun terlihat semangat Tjok yang masih seperti biasa yaitu ingin memajukan musik jazz di tanah air. Dalam kesempatan itu ia memainkan repertoar-repertoar Big Band, antara lain: String of Pearl, Temptation, Mood Indigo,Bags New Groove yang totalnya berjumlah hampir 31 buah lagu. Sekali ini Tjok muncul dengan bantuan Henny Purwonegoro dan Maya Sopha. Acara tersebut diadakan 18 jam setelah kepergian sang maestro Sam Saimun, yang seharusnya dijadwalkan juga turut menemani Tjok untuk menyanyikan Selendang Sutera ciptaan Ismail Marzuki dalam pembukaan acara Big Band tersebut.[2]


Referensi
1. Tjok Sinsoe di Jakarta go.id, http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/3405/Tjok-Sinsoe, diakses 27 April 2011
2. Tjok Sinsoe di Jejakmusik, jejak musik, diakses 27 April 2011




Wednesday, May 13, 2009

Notturno






About Notturno
As a result of almost three years friendship, three individuals with different visions but same mission, finally agree to form a kind of unifiying ideas in the form of trio ensemble.

Joshua, Cak Hend, and Masmo played together for the first time as sidemen of Beben Jazz's ensemble called Beben Quartet (BQ) in 2005 (they still in this band now). The three also active in Komunitas Jazz Kemayoran/KJK (Kemayoran Jazz Community), one of the biggest jazz communities in Indonesia. After two years playing music together in many gigs, occassionals, events (they've performed in Java Jazz Festival 2005-2006, Jakarta International Jazz Festival 2006-2007, played as host band in the socio-political talk show at the local tv station in Jakarta, KJK's special event), finally they decided to form an ensemble in February, 2007.

They agree to experience some fun and exclaim adventure in immeasurable world of music. They agree to look for new harmony of music, taking root from various musical colours which they have wrestled during the time. They shall agree flying to the mysterious realm of ideas but preoccupy. Then they agree to state themself as Notturno.

After releasing their first indie mini album '4.25 AM', Notturno is back with a singel called Jiro - It takes Him 3 Steps Forward featuring a young tenor saxophonist, Yudha Gautama. This song's included in a soundtrack album Pintu Terlarang [release January 2009]. In April this year, Cak Hend and friends also released their 2nd record (now in full album) called Volume 1 - Akoustica Adventure, a first of their trilogy album which each album will be tittled by word 'Volume' [after volume 1, they will release 'Volume 2' and 'Volume 3']. Now, beside have a busy promo schedule for their album, this trio will present some songs for another soundtrack album for a thriller horror movie called Macabre, hopefully release in August 2009.

For them, Notturno is an adventure, a journey, an odyssey, to fuse their motley visions of music. Do you want to join in their musical journey? So, welcome to the adventure world of Notturno.







,